shadow

Opini : Lima Tanggung Jawab Kompetensi Seorang Pendidik Oleh : Dr. Silahuddin, M.Ag


رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحد نبيا ورسولا

Tugas adalah wewenang yang harus ditunaikan dengan cara menguasai bidang studi sebagai media, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan dimana pendidik harus menguasai ilmu pedagogis sebagai wadah untuk menjalankan tanggung jawab dan wewenangnya sebagai pendidik secara kaffah, mendidik, mengembleng dengan segala yang ia miliki ilmu pengetahuan, upaya, suri tauladan, keterampilan tanpa berputus asa atau menyerah.

Detailnya, penggabungan kemampuan yang dimiliki berupa pengetahuan, keterampilan serta tingkah laku sebagai teladan dalam menjalankan tugas profesionalnya, namun ada yang menambahkan terkait standar kompetensi berkaitan tentang pengelolaan pembelajaran, pengembangan profesi, dan akademik serta penguasaannya.

  1. Kompetensi Pedagogik

Pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi belajar, serta pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi merupakan kompetensi pedagogik kerap harus dimiliki orang seorang pendidik.

Memahami peserta didik secara mendalam memiliki indikator serta merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran menerapkan teori belajar dan pembelajaran menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, dengan materi ajar serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.

Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya dengan cara memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.

  1. Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

Kepribadian yang mantap dan stabil dalam bertindak sesuai dengan norma hokum bertindak sesuai dengan norma social mencontohkan bangga sebagai guru yang konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma. Kepribadian yang berwibawa dimana pendidik memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani.

Akhlak mulia dan dapat menjadi suri tauladan sesuai dengan norma religius (iman dan taqwa, jujur, ikhlas, suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

  1. Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial merupakan kecapakapan atau kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Menjadi ruang publik sebagai ladang dan lahan edukasi, memberikan pemahaman yang tidak mendiskreditkan suku, kalangan atau individu yang bisa memperkeruh dan mengganggu etos kepribadian seseorang.

  1. Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas nan mendalam, mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap stuktur dan metodologi keilmuannya.

Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi memiliki artinya memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah serta menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki indikator esensial menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan/materi bidang studi.

  1. Kompetensi Untuk Memotivasi

Sedikit dari banyaknya penyelenggara pendidikan keliru dalam meletakkan tupoksi dan efektivitas motivasi dalam pendidikan, namun ada yang memilih untuk menyampingkannya dengan cara tidak adanya aksi atau praktik dalam ruang lingkup mendidik dan mengajar.

Hakikat motivasi dibagi kepada dua unsur, pertama internal dan yang kedua ekternal cakupan motivasi internal sangat sempit karena merujuk pada definisi maka ditemukan bahwa definisi motivasi internal hanya pada pribadi atau individu saja, dan sebaliknya telaah motivasi ekternal memiliki cakupan yang cukup luas meliputi keluarga, sanak famili, dan masyarakat luas atau disebut dengan Lingkungan.

Motivasi internal artinya kemuan, kecenderungan atau keinginan yang tumbuh dan mengakar dari dalam diri seseorang untuk bangkit atas dasar sesuatu target atau kemauan yang ingin dicapai. Sedangkan motivasi eksternal meliputi lingkungan artinya motivasi yang tumbuh dan berakar pula kemudian disebabkan oleh faktor selain dari pada diri seseorang.

Namun dalam dunia pendidikan kata motivasi terkenal dengan sangat tajam, bahkan menjadi salah satu pendukung seseorang, guru, murid, lembaga untuk melaksanakan edukasi yang baik dan berkualitas. Disini ada hal yang ingin penulis ingatkan bahwa dunia pendidikan tidak memandang motivasi sebagai tolakm ukur kesuksesan tapi motivasi ialah jantung daripada langkah, perancangan, dan praktik pendidikan itu sendiri.

Namun pertanyaannya adalah bagaimana memotivasi peserta didik? Terdapat lapisan masyarakat ter motivasi untuk berubah hanya karena melihat kicauan burung dipagi hari, ada pula lapisan masyarakat yang kerap termotivasi dengan membaca, lebih lagi ada lapisan masyarakat mampu termotivasi dengan kata-kata atau siraman rohani.

Dalam proses belajar mengajar peserta didik layak untuk ditaburi dengan semangat dan ghirah kehidupan agar ia terstimulasi akan pentingnya belajar, perlunya membaca, niat peduli sesama dan bagaimana bertata krama dalam tatanan sosial.

Peserta didik atau siswa membutuhkan sentuhan lembut dengan motivasi dari pendidik, tapi tidak mungkin secara instan namun harus berkelanjutan setiap hari.

‘’Perkataan guru yang memberikan Inspiratif pada seorang murid sangat berarti dan akan membawa pengaruh besar dalam kehidupannya­­’’

Dr. Silahuddin, M.Ag
Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar

Related